Category: Motivasi
Menghafal Melalui Latihan
Berawal dari sebuah pertanyaan “apa dalam mempelajari sesuatu harus menggunakan cara yang sama?“. Kalau menurut saya tidak. Ilmu itu mempunyai klasifikasi yang berbeda dan penekanan masalahnya berbeda pula. Semangat mempelajari harus sama untuk tiap ilmu, metode boleh ada kesamaan tapi yang terpenting adalah menyesuaikan (adaptif). Belajar ilmu berbasis referensi seperti sejarah tentunya beda dengan belajar ilmu pasti seperti matematika.
Pertanyaan berikutnya adalah “kok kenapa susah sekali belajar atau memahami ilmu baru?“. Bisa jadi karena paradigma lama masih digunakan dalam mempelajari ilmu baru tersebut. Ilmu baru itu apa?. Ilmu apa saja yang jelas belum pernah dipelajari. Paradigma lama adalah menghafal. Kita orang tahu (upin-ipin style), dari level pra sekolah sampai sekarang (mungkin) guru mengajari kita menjadi penghafal yang handal, bukan sebagai seorang analis yang hebat.
Sarjana Komputer vs Sarjana CopyPaste
Saya termasuk orang yang suka memberikan tugas kuliah kepada mahasiswa dengan metode yang relatif mudah dikerjakan, dalam artian waktu pengerjaannya lebih luas dan disampaikan secara online daripada dalam bentuk hard-copy (cetakan). Disini mahasiswa diwajibkan melek digital plus internet. Harapan saya adalah isi tugas akan lebih bagus, analisanya luas dan mendalam karena waktu pengerjaan lebih leluasa serta kemudahan mencari referensinya.
Tapi metode ini menjadi blunder atau malah menjadi bumerang buat saya, karena mereka lebih leluasa mengambil “paksa” tulisan orang lain yang notabene belum tentu orang itu punya kompetensi dengan masalah tersebut. Mengambil “paksa” ini karena mereka mengambil dengan meng-copy dan paste bulat-bulat tanpa di-edit terlebih dahulu. Apakah tindakan ini dilarang ?, tentu tidak tapi kurang produktif dan menyinggung hak cipta. Ini adalah bentuk konskuensi dari era digital. Digital memberikan hasil yang hampir 100% sama dengan aslinya.
Tentunya mahasiswa menjawab atau mengerjakan tugas dengan mengambil referensi/sumber lain sangat disarankan. Sumber tersebut menjadi bahan kajian untuk makalah sehingga akan menghasilkan tugas dengan konten yang baik. Melakukan tindakan copy-paste tentunya didasari oleh alasan-alasan tertentu. Kepraktisan itu alasan utama melakukan copy-paste. Kepraktisan mengandung beberapa elemen. Salah satunya adalah ketidakmampuan mereka untuk menterjemahkan tugas dengan baik serta tidak tersedia waktu untuk mengerjakan atau malah tugas ini menjadi beban bukan menjadi bagian dari tahapan untuk memperoleh ilmu, ujung-ujungnya yang penting membuat.
Jika semua tugas atau bentuk evaluasi perkuliahan dikerjakan dengan cara seperti itu, maka tidak akan menghasilkan sarjana komputer (S.Kom) yang akan memberikan efek membanggakan disaat dicantumkan dalam undangan pernikahan mereka tapi sarjana copy-paster (S.CP). Pada domain perguruan tinggi komputer, seorang mahasiswa dituntut menguasai bahasa pemrograman dan diakhir studi harus membuat sebuah sistem (program aplikasi). Pertanyaannya adalah apa mempelajari program juga harus copy-paste?. Jika ya berarti akan banyak lulusan S.CP dari S.Kom. Kemampuan coding (membuat program) mahasiswa ilmu komputer di Indonesia rendah, karena terkena sindrom malas dan cenderung menganggap enteng masalah ini. Kalau tidak bisa membuat program sendiri, cukup beli saja dari orang dengan harga yang cukup murah. Sangat Indonesia sekali. Berdasarkan pengalaman saya mengetahui mahasiswa membuat program sendiri dan membeli program cukup mudah. Pertanyaan yang sering saya tanyakan adalah “Kamu beli berapa program ini ?”. Dengan muka merah (karena ketahuan) mereka menyebutkan nominal tertentu. Ironis memang.
[stickyleft]“aku gak bisa ngasih peninggalan materi yang banyak, tapi aku telah menyekolahkan kamu sampai batas yang aku mampu. Dengan ilmu yang kamu dapat mudah-mudahan tidak akan tersesat nanti “. [/stickyleft] Menjadi sarjana komputer ternyata sangat berbeda dengan sarjana-sarjana bidang lain (dengan tidak mengesampingkan bidang ilmu lain). Jika berkuliah di ilmu komputer penekanan kemampuan berpikir logis sangat diutamakan. Berdasarkan pengalaman saya, mahasiswa ilmu komputer yang sebenarnya sudah dapat dilihat mulai dari semester kedua. Pada semester ini kemauan dan kemampuan serta cara berpikir mahasiswa sudah terlihat. Akan semakin jelas jika sudah menginjak semester ketiga/keempat.
Tantangannya adalah sadarkah mereka apa yang harus dilakukan sebagai calon sarjana komputer atau akan menyerah dengan menyandang gelar sarjana copy-paste?. Semua kembali kepada masing-masing mahasiswa dengan motivasi kenapa mereka kuliah. Memang ingin mendalami ilmu komputer atau hanya sekedarnya saja demi sebuah kedudukan dan status sosial.
Yang terpenting adalah jangan sia-siakan waktu yang ada karena waktu tidak dapat diulang, tapi kalau materi bisa dicari kapanpun.
Filosofi Doraemon
Hampir semua orang Indonesia tahu negara Jepang. Orang-orang tua yang lahir sebelum negeri merdeka pasti tidak asing dengan nama negara ini, karena mereka merasakan bagaimana kejamnya bangsa Jepang dalam menjajah negeri walau hanya tiga setengah tahun. Fakta menunjukkan Jepang mengakhiri penjajahannya di Asia setelah mereka kalah perang dengan sekutu, setelah bom atom menghancurkan dua tempat di negeri matahari terbit itu.
Semester Panik
Artikel ini merupakan bagian kedua dari tiga seri artikel yang berkaitan dengan mahasiswa informatika.
Semester Panik adalah istilah saya untuk menggambarkan kondisi mahasiswa tingkat akhir tapi belum mempunyai persiapan matang untuk menyelesaikan. Mahasiswa diploma, semester 5 dan 6 adalah semester dimana harus menyelesaikan kuliah kerja praktek (KKP) dilanjutkan dengan mengerjakan tugas akhir (TA). Untuk jenjang strata 1, semester panik bisa dirasakan mulai semester 6 menjelang semester 7. Hal ini juga berlaku untuk mahasiswa magister (S2), menjelang semester ketiga, tak satupun ide atau materi yang akan dibawah menjadi thesis. Panik sepanik-paniknya.
Pertanyaannya kenapa harus panik?. Belum siap?. Biasanya belum siaplah yang membentuk kondisi kepanikan ini. Siap dalam artian siap mental dan yang terpenting siap materi. Materi apa sih?.
Salah Jurusan-kah !
Artikel ini merupakan bagian pertama dari tiga seri artikel yang berkaitan dengan mahasiswa informatika.
Artikel ini bagian dari makalah yang saya sharing pada acara kemahasiswaan yang bertajuk Mercusuar Leadership Training 2010 (MLT2010) pertengahan bulan Mei di Cisarua Bogor. Temanya mungkin cukup sederhana, tapi saya menganggap dibalik itu tidak sesederhana temanya.
Para calon mahasiswa, memilih berkuliah di jurusan informatika tentunya mempunyai konsekuensi tersendiri. Mengapa?. Saya berpendapat bahwa informatika itu ilmu yang dinamis yang menuntut mahasiswa harus dinamis. Sebelum memutuskan berkuliah di informatika tentunya sudah berbekal informasi yang cukup, terutama jurusan yang akan diambil.
Berbenah Berubah dan Melangkah
Kadang tergelitik dengan pertanyaan yang biasa sangat akrab diakhir atau awal tahun. “Apa resolusimu di tahun baru ini?“. Atau setelah “sekedar” melakukan sesuatu kemudian telah selesai muncul pertanyaan “what’s next?“. Pertanyaan sederhana tapi jawabannya bisa luar biasa atau malah biasa-biasa saja. Sebenarnya pertanyaan ini ada relevansi dengan keberadaan web ini atau lebih tepatnya blog ini. Tiga tahun online, berawal coba-coba, sempat mengalami posisi yang dilematis dalam memposisikan diri di luasnya ranah online.










Recent Comments