Category: Teaching
Suatu Hari dalam Kehidupan Internet
Internet sudah menjadi bagian dari kehidupan masa kini. Cara menikmatinya juga begitu mudah bahkan ada digengaman atau kantong kita. Pertanyaannya, seberapa sering kita mengakses internet dalam sehari ?. Pasti beragam jawabnya. Internet menjadi dunia baru yang membius para penggunanya, karena tanpa kemana-mana tapi bisa ke mana-mana. Lonjakan konsumsi internet ditunjang oleh hadirnya jejaring sosial seperti Facebook atau Twitter (dengan tidak menafikan jejaring sosial lain). Pengguna Facebook sudah mendekati 1 milliar pemakai dan lonjakan pengguna Twitter juga meningkat begitu pesat.
Monster bernama SOPA
Internet menciptakan dunia baru tanpa batas dan tanpa nama. Atas nama kebebasan pula, konten yang dipublikasi di internet sudah hampir pasti bisa dinikmati oleh semua pengguna. Sebagai pemakai internet tentunya sangat terbantu karena apa yang menjadi pertanyaan dan jawabannya dapat di eksplore menggunakan bantuan internet. Bagaimana jika dalam mempublikasikan informasi tertentu ada bagian konten (teks, gambar, video atau elemen lain) yang dimiliki oleh pihak lain dan ada pihak yang mengajukan keberatan sehingga berujung pada pemblokiran website kita bahkan tidak dimasukkan dalam mesin pencari sehingga berakibat terganggunya transaksi bisnis?.
Format dan Codec Audio Video
Mendengarkan lagu bisa menjadi kegiatan yang mengasyikkan karena bisa dilakukan dimana dan kapan saja karena portabilitas perangkat yang ada. Begitupun dalam menikmati tontonan video. Konsep konvergen menjadi faktor utama dari kemudahan tersebut. Format digital pulalah yang memungkinkan audio dan video bisa masuk dalam satu perangkat. Tapi ada yang sedikit terlewatkan atau bahkan terabaikan adalah “kenapa semua tadi bisa masuk dalam satu perangkat?”. Menjawab pertanyaan tadi harus mencari hal-hal yang bersifat teknis, yaitu tentang format atau bahkan codec. Suara atau audio dikenal istilah MIDI, WMA, MP3, MP4, AAC dan lain-lain sedangkan untuk video dikenal adalah istilah AVI, 3GP, MP4, FLV, DVDRIP dan lain-lain.
Amunisi Mahasiswa Tingkat Akhir
Beberapa minggu belakangan ini saya disibukkan dengan menjadi penguji sidang tugas akhir mahasiswa saya, paling tidak minimal 2 kali dalam sepekan. Buat saya menjadi penguji mempunyai keasikkan tersendiri. Menyenangkan dan menggelikan. Menyenangkan karena melihat hasil karya mahasiswa berupa aplikasi/program ataupun produk tugas akhirnya yang bermacam-macam dengan pendekatan yang berbeda-beda. Yang paling umum dari produk tugas akhirnya adalah aplikasi yang dihasilkan dari perancangan sistem dari berbagai proses bisnis yang ada, dan beberapa konsep yang berhubungan dengan jaringan komputer. Menggelikan karena melihat tampang mereka yang tegang menghadapi para penguji sehingga sering membuat rasa grogi yang kadang berujung pada hilangnya semua yang telah disiapkan.
Negara Fakir Bandwidth
Internet sudah menjadi bagian hidup dari orang modern. Dimanapun sebisa mungkin terhubung di internet. Bahkan sekarang sudah masuk ke dalam kantong celana/baju karena perangkat komunikasi seperti telepon selular sudah terintegrasi perangkat untuk mengakses data (baca internet). Kebutuhan akses internet makin lama makin besar sedangkan perkembangan infastruktur cenderung tidak bergerak mengikuti perkembangan atau penetrasi internet itu sendiri sehingga berimbas pada kecepatan akses internet.
Menghafal Melalui Latihan
Berawal dari sebuah pertanyaan “apa dalam mempelajari sesuatu harus menggunakan cara yang sama?“. Kalau menurut saya tidak. Ilmu itu mempunyai klasifikasi yang berbeda dan penekanan masalahnya berbeda pula. Semangat mempelajari harus sama untuk tiap ilmu, metode boleh ada kesamaan tapi yang terpenting adalah menyesuaikan (adaptif). Belajar ilmu berbasis referensi seperti sejarah tentunya beda dengan belajar ilmu pasti seperti matematika.
Pertanyaan berikutnya adalah “kok kenapa susah sekali belajar atau memahami ilmu baru?“. Bisa jadi karena paradigma lama masih digunakan dalam mempelajari ilmu baru tersebut. Ilmu baru itu apa?. Ilmu apa saja yang jelas belum pernah dipelajari. Paradigma lama adalah menghafal. Kita orang tahu (upin-ipin style), dari level pra sekolah sampai sekarang (mungkin) guru mengajari kita menjadi penghafal yang handal, bukan sebagai seorang analis yang hebat.








Recent Comments