Mengukur Harga Sebuah Integritas

0 56

Integritas, makhluk apa itu, kok sepertinya penting sekali. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ini arti dari Integritasi itu

integritas/in·teg·ri·tas/ n mutu, sifat, atau keadaan yg menunjukkan kesatuan yg utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yg memancarkan kewibawaan; kejujuran; (http://kbbi.web.id/integritas, diakses 17/05/2015 jam 14.54 WIB)

Jika ditilik dari arti diatas, integritas itu melekat pada tiap orang, berkaitan dengan komitmen diri terhadap suatu tanggung jawab. Menegakkan integritas itu ibarat menjaga sebuah janji diri untuk melaksanakan sebuah amanah (aturan/etika/moral/nilai luhur) dan berlaku adil walau kesempatan untuk berlaku sebaliknya sangat mungkin dilakukan. Singkatnya begini, jika anda menjabat seorang ketua RT, dan salah satu warga meminta surat pengantar ke kelurahan, menurut aturan tidak boleh menerima imbalan apapun, sedangkan warga ini bersikeras memberikan imbalan entah itu berupa uang atau barang dan anda menolak dengan tegas. Ini salah satu sikap saja, dalam hal bersifat adil misalnya, berpikir dan bertindak sesuai koridor aturan, walau saudara atau keluarga sendiri melanggar hukum, maka sebagai ketua RT taat dan patuh pada aturan yang berlaku. Padahal sebagai pribadi anda dapat berlaku sebaliknya, dengan menggunakan alasan membela saudara/keluarga. Integritas berkaitan dengan komitmen, etika/moral dan sikap profesionalisme.

Saya ingat awal tahun 2000, karena sejak awal saya tidak membatasi diri dengan mahasiswa, artinya dalam hal berkomunikasi bahkan dalam melakukan aktifitas tertentu. Saking akrabnya, tidak jarang mahasiswa menginap di rumah saya yang sempit dan mereka rela tidur beralaskan tikar/karpet lusuh. Pernah suatu ketika, rekan dosen menegur, janganlah terlalu akrab dengan mahasiswa, karena kelihatan tidak ada wibawanya. Waktu itu saya cuma menjawab, “terima kasih sudah mengingatkan. Tapi tahukah, saya tidak pernah menjanjikan apa-apa kepada mereka, walau dekat, saya menegaskan bahwa saya dosen itu kalau di kampus, sedangkan diluar kampus adalah teman“. Pernyataan bernada komitmen ini, saya jaga sehingga saat mereka nilainya kurang (cenderung tidak lulus), mereka tidak pernah komplain kepada saya. Karena saya pernah bilang kepada mereka, “kalau nilai lu jelek ya jelek aja, gak ada perbaikan walau lu deket ama gua” dan bahasa itulah yang saya gunakan untuk menyampaikan komitmen saya. Mereka mengerti dan memahami. Prinsip ini saya pakai sampai sekarang dan Alhamdulillah berjalan dengan asyik.

Ini cerita lain dari kejadian nyata yang saya alami, suatu waktu datanglah mahasiswa dan orang tuanya ke rumah kontrakan saya. Sewaktu mereka datang saya sudah berperasaan tidak enak dan cenderung paham apa maksud kedatangannya. Ternyata benar, dengan muka melas plus malu-malu, bagaimana caranya menaikkan nilai-nilai mata kuliahnya yang ada agar cukup memenuhi syarat pengangkatan pegawai negerinya. Saya menjawab, “wah asyik ini, andai saya bisa yang sebenarnya bisa tapi saya tidak bisa. Mengapa?, karena saya tidak bisa“. Celakanya si orang tua mahasiswa ini, bawa-bawa “kan kita tetangga“, dan memang kami bertetangga. “O iya ya, kita bertetangga ya, dan ini bukan kebetulan loh bu..”. Akhirnya mereka pulang dan saya tidak memberi “ongkos” apa-apa.

Cerita lain lagi, seorang alumni (karena sudah lulus dan ijasah+transkrip sudah tercetak), kirim pesan via Facebook, agar diberi kesempatan memperbaiki nilainya demi dapat mendaftar pegawai negeri (lagi-lagi). Saya cuma balas “telat mas, ijasah+transkrip sudah jadi, lah dulu waktu kuliah gimana kok dapat nilai yang pas-pasan…“. Tetap berusaha dengan berbagai cara pendekatan dan saya cuekin akhirnya berhenti sendiri.

Mungkin ada yang tergelitik “pasti pernah dong tergoda untuk menerima sesuatu….”. Hehe, pernah sih tapi kok malah bikin ganjelan hati, ya sudah tidak usahlah. Terus ada yang tanya, “pernah gak menerima hadiah atau pemberian dari mahasiswa…“. Sering malah, dan saya cuma mengucapkan “terima kasih yaa, semoga berkah. Ini saya anggap gak berpamrih loh, ikhlas kan….?“.

Ini modus baru, “boleh gak kami belajar atau les diluar jam perkuliahan…?“. Saya jawab “silakan, kumpulin aja temen-temennya, nanti kalau sudah terkumpul hubungi saya…“. Akhirnya terjadilah belajar/les sesuai waktu yang ditentukan. Mereka mungkin kurang paham waktu dijelaskan di kelas dan saya berprinsip, tidak akan memberikan kompensasi apapun terhadap hasil akhir (nilai) walau mereka sudah les dengan saya.

Pernah kejadian seorang dosen, untuk menutup kekurangan kehadiran dan tugas-tugas mahasiswa menyarankan menyumbang seikhlasnya untuk yayasan (sosial) yang dikelola dosen. Dan walah….nilai berubah. Melihat hal ini harus dilihat dari dua sisi, isi otak mahasiswa (“ah biar nilai bagus, gua nyumbang aja…” – makna bergeser dari sosial ke pamrih memperbaiki nilai mata kuliah). Sedangkan sisi dosen (“alhamdulillah ada yang mau nyumbang” – sosial). Mahasiswa (“sosial tercemari niat“), dosen (sosial). O ya, dosen itu sudah saya keluarin (berdasarkan bukti otentik pengakuan “korbannya”).

Tidak jarang juga seorang mahasiswa datang mengeluhkan kehadirannya kurang karena alasan-alasan yang ada atau tidak mengerjakan tugas, tidak mengikuti UTS/UAS dan mereka minta kompensasi dengan tambahan tugas atau mengajukan diri membeli buku (mungkin karena dosen lain pernah melakukan seperti itu). “Tidak perlu repot-repot, saya menilai dengan metode SAP (sesuai amal perbuatan). Jadi walaupun cuma masuk sekali, ya tetap dihitung, seperti yang sudah saya sampaikan setiap pertemuan pertama kuliah“.

Hahaha….itu dinamika menjadi tukang kecap (pengajar), uniknya tidak semua penikmat kecapnya (mahasiswa) mempunyai kesadaran menyeluruh. Selalu mengukur diri dengan parameter “bahwa gue kan kerja dan capek, masa gak ada pengertiannya sih…“. Tapi biarlah, itu hak mereka dan saya menggunakan hak saya. Bukan sok suci atau moralis tapi tugas seorang dosen bukan hanya menyampaikan materi perkuliahan tapi menyampaikan kalau perlu memberikan contoh tentang profesionalisme dan komitmen.

Nah, sekarang terserah dirimu wahai rekan-rekan dosen, tahulah seharusnya bagaimana. Wahai mahasiswa-mahasiswa, hargailah sebuah proses, tidak mungkin suatu yang bagus itu tercipta tanpa sebuah proses. Lebih penting mana hasil atau proses. Mana yang lebih terasa prosesnya apa hasilnya?.

Tapi itu semua pemikiran saya berdasarkan apa yang pernah saya alami, entah pemikiran sampean.

Antokoe Orange House (17 Mei 2015)
sumber gambar : http://affirmyourlife.blogspot.com/

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.

six + six =