Semua Orang Berpotensi Jadi Mafia

0 72

Beberapa minggu lalu ada yang kasih tahu kalau aku ini dianggap sebagai Mafia. Whats……itu responku waktu itu, tapi tidak lama kemudian aku malah tertawa terpingkal-pingkal sampai terbatuk. Jika benar berarti aku mafia berwajah culun nan imut, sumpah lah wong di-meme-nya itu wajah imutku yang muncul. Ada sih yang sangar di foto disampingku. O..ya di meme itu foto imutku dipajang bareng foto cool nan sangar temanku. Siapa dia?. Ahh..kepo..
Iya bener aku cuma ngakak melihat meme itu. “Kok lu gak marah sih, kan dia menghina lu…”, tanya temanku. “Siapa yang menghinaku….?, tanyaku. “Lah itu yang bikin meme, kan lu kan punya otoritas untuk itu…, dia kan murid lu”, sambung temanku. “Siapa….dia muridku…?, salah dia guruku malah…”, jawabku. “Maksudnya…?”
Begini kira-kira, aku berusaha menjelaskan. Dia secara tidak langsung mengajarkan bagaimana berkreasi, menyampaikan pendapatnya, dan menunjukkan bahwa aku plus temanku mempunyai potensi menjadi mafia. Ini yang selama ini tidak pernah aku sadari. Jadi buat apa direspon marah-marah, bahkan dipublikasikan.
“Terus gak punya keinginan nanya maksud dari meme itu “, tanya temanku lagi. “Ada sih….tapi buat apa ya….”, jawabku. “Kan lu berhak marah ke dia….lu kan punya otoritas untuk itu…kalau gak lu kan jadi pengecut dihina kok diem aja”, timpal temanku. “Emang lu dah tahu siapa yang buat…?”, tambah temanku. “Kalau memang sudah tahu atau belum tahu kenapa?”, jawabku. “Ahh…lu sih…kalau misal lu dah tahu kan lu bisa hubungi dia, lu punya fasilitas dan teknologi untuk itu…”, temanku seperti sudah mulai kesal. “Hahaha….santai aja bro, kita kan dah tahu kan santet paling mujarab di dunia ini….? “, jawabku sambil becandain temanku yang mulai kesal. “Emang kita bisa nyantet ya…..?”, tanya temanku. “Loh katanya kita mafia, tahu cara kasar apalagi yang alus pasti tahu lah….”. Aku dan temanku tertawa ngakak dan terhenti saat aku nanya “Eh…yang kemarin itu jadi nyantet si itu…?”. “Ohh jelas jadilah…”, jawab temanku. Kami tertawa ngakak lagi.
Hidup itu hanya sekali, memberikan ilmu atau pengetahuan karena diri dianggap mampu itu sudah menjadi sebuah kehormatan. Jika yang diajarin nantinya menjadi lebih pintar dan kreatif secara tidak langsung ada andil kita karena kita pernah memberikan pengetahuan kepada orang lain. Percayalah, dan aku sangat percaya bahwa tidak ada ruginya menjadi guru atau apalah sebutannya. Karena disaat lain yang dulunya belajar sama kita suatu saat akan menjadi guru buat kita. Aku percaya semakin tinggi pengetahuan kita semakin bertumbuh kesadaran itu, kesadaran bahwa kita akan haus dengan pengetahuan-pengetahuan baru, itu sebuah kesempatan, jika dilewatkan dan kita tidak bertumbuh sedangkan yang pernah belajar dengan kita terus bertumbuh, maka jika suatu saat akan beradu dan kita terjebak biasanya muncul jurus terakhir berupa label-label keramat seperti “murid durhaka”, “murid tak tahu diuntung” dan lain-lain.
Selama nafas dan jantung masih berfungsi, selama itu kita masih bisa bertumbuh dengan pengetahuan-pengetahuan baru, karena “long life education”, pendidikan sepanjang hayat. Jika tidak mau belajar ya pilihannya cuma mati. Iya mati aja tidak perlu ke laut tapi langsung mati aja.
Terus apa kaitannya dengan mafia tadi ?. Menurutku, setiap diri manusia bisa menjadi mafia, setidaknya untuk diri sendiri. Menurut Wikipedia mafia itu “ Mafia, juga dirujuk sebagai La Cosa Nostra (bahasa Italia: Hal Kami), adalah panggilan kolektif untuk beberapa organisasi rahasia di Sisilia dan Amerika Serikat. Mafia awalnya merupakan nama sebuah konfederasi yang orang-orang di Sisilia masuki pada Abad Pertengahan untuk tujuan perlindungan dan penegakan hukum sendiri (main hakim). Konfederasi ini kemudian mulai melakukan kejahatan terorganisir. “ Nah menurut terminologi umum mafia berarti kejahatan terorganisir. Jika diri kita secara terorganisir melakukan kejahatan buat diri sendiri dan orang-orang didekat kita, bisa disebut mafia juga dong…..
Saat diri ingin maju, saat diri ingin belajar terus, saat diri ingin berbuat baik tapi prasangka, fanatisme, keperpihakan terus menguasai pikiran dan hati maka secara terorganisir itu sebuah kejahatan. Kejahatan yang menghambat diri untuk terus bertumbuh maju, dan jika hal ini dilakukan secara masif maka diri sudah menjadi mafia, mafia buat diri sendiri. Betapa ngerinya jika ditujukan untuk orang lain, secara tidak langsung sudah menjadi mafia buat diri sendiri dan juga buat orang lain.
Jadi bercermatlah menciptakan label-label, disaat tidak tahu apa-apa, sebaik diam. Diam bukan artinya setuju, tapi diam karena kita punya kesadaran tinggi. Berfokuslah pada potensi diri untuk memberdayakan diri dan orang lain.
Selamat Hari Pendidikan Nasional

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.

13 − 2 =